𝐗𝐗. 𝑷𝒖𝒊𝒔𝒊𝒌𝒖 𝑴𝒂𝒕𝒊, 𝑴𝒆𝒊
───────── ✾ ───────── ───────── ✾ ───────── ヾ 16 Mei 1998 Netranya tiada henti perhatian kedua kawan silih berganti. Dalam lindap yang lebih pantas untuk disebut gelap, dua pasang obsidian yang ditatap masih setia dengan mata yang tampak terkatup rapat sekali. Kadang kala, resonansi yang keluar dari bibir-bibir itu menggema merapahi sudut yang sepi. Sahut-menyahut bak melodi yang mengisi kosongnya ruang malam sunyi. Tak ada satu pun suara untuk saling bertukar kata, semua terlelap membikin sang pujangga Tionghoa hanya bisa terjaga dalam diam. Setelah tertangkap pada rungu gema suara membawa pergi raga Jodi, netranya tak lagi dapat terpejam. Ia tahu bahana itu bukan milik orang-orang yang memberinya cacian atau mungkin memperlakukan kawan lainnya lebih kejam, tapi kobaran api tanya pula rasa khawatirnya tak lantas dibikin padam. Semakin dipikirkan justru kian menghujam tanpa siap lekas redam. Mei Lien beringsut seraya menekuk lutut, sandarkan diri pada dinding yang tampak sed...
Comments
Post a Comment