𝐗𝐗. 𝑷𝒖𝒊𝒔𝒊𝒌𝒖 𝑴𝒂𝒕𝒊, 𝑴𝒆𝒊

───────── ✾ ─────────

───────── ✾ ─────────

16 Mei 1998

Netranya tiada henti perhatian kedua kawan silih berganti. Dalam lindap yang lebih pantas untuk disebut gelap, dua pasang obsidian yang ditatap masih setia dengan mata yang tampak terkatup rapat sekali. Kadang kala, resonansi yang keluar dari bibir-bibir itu menggema merapahi sudut yang sepi. Sahut-menyahut bak melodi yang mengisi kosongnya ruang malam sunyi. 

Tak ada satu pun suara untuk saling bertukar kata, semua terlelap membikin sang pujangga Tionghoa hanya bisa terjaga dalam diam. Setelah tertangkap pada rungu gema suara membawa pergi raga Jodi, netranya tak lagi dapat terpejam. Ia tahu bahana itu bukan milik orang-orang yang memberinya cacian atau mungkin memperlakukan kawan lainnya lebih kejam, tapi kobaran api tanya pula rasa khawatirnya tak lantas dibikin padam. Semakin dipikirkan justru kian menghujam tanpa siap lekas redam. 

Mei Lien beringsut seraya menekuk lutut, sandarkan diri pada dinding yang tampak sedikit berlumut di tepi beberapa sudut. Satu tangannya merogoh saku, merenggut pena pula catatan mungil yang sudah tampak sedikit kusut dan berkedut. Carut-marut legam kata mulai terajut, lentik jemari hanyut oleh diksi-diksi mekar layaknya bunga yang tak kenal lisut. 

_________________________________     

Puisiku Mati, Mei ....

dan puisiku tidaklah lebih muda
daripada pertemuan kita. 

diksi-diksi renta,
kata-kata berumur tua. 

tiada pula dihidangkan lagi namamu 
untuk bait-bait yang kelaparan ini. 

jadikan lesap segenap penawar, kini 
yang tercecap sebatas rasa hambar. 

sudah mati, ternyata puisiku sudah 
sangat sekarat. begitu namamu ditebas 

sampai tak mampu bernapas bebas,
puisiku kehilangan udaranya. 

lenyap dalam lautan kobar malang, 
yang hanguskan Mei dari binar gemilang.
_________________________________  

Netra sayu itu menatap sedu, niat hati menulis untuk membasuh pilu justru berujung kian mengharu. Lagi dan lagi, segala hal berkelibat tanpa tuju, jadikan isi kepalanya tertimbun rancu. Bibirnya yang lama tak tersentuh gincu itu tak lagi dapat tersenyum syahdu. Semenjak intimidasi datang bertamu tanpa jemu, harapan hidup menjelma semu. 

Di sela detik-detik yang berderik, saru derap tertangkap pada rungu. Mendadak degup berpacu menggebu-gebu. Terpaku netra pada pagu, doa-doa teramu dalam kalbu. Awak prosais itu termangu kaku. Lesu, bayang-bayang kematian tiada henti terus memburu. 

"Bawa gadis itu." 

Untuk kali kedua, orang-orang yang sama menarik raganya paksa. Catatan pula pena yang semula masih tergenggam erat jatuh begitu saja. Pujangga berdarah Tionghoa meronta, lengkingan memekak telinga jadikan lelap Sadajiwa dan Sakalara telah binasa, terperanjat mereka bangun begitu raungan Mei Lien menggema di udara. 

"Mau kalian bawa ke mana dia?" hardik Sadajiwa sembari mencerna suasana. Asta yang terhadang untuk menghalang pun ditepis oleh para taruna. Dia dijegal agar tak gagalkan aksi mereka. "Ce Lien!" 

Sakalara menjangkau lengan Mei Lien dengan sebelah tangannya, menarik sang dara dari kungkungan tentara. Mendapati ringis nyeri terluncur dari bibir si prosais sebab luka belum sembuh seuntuhnya, dengan lantang ia mencerca. "Dia wanita. Brengsek, apakah melukai seorang dayita juga bagian dari pekerjaan kalian semua?" 

Jajaran pria yang mengenakan baret berwarna berma kian menggila. Tanpa banyak bicara kerahkan tenaga untuk lekas membawa Mei Lien pergi dari sana, sementara Sadajiwa dan Sakalara kembali dikurung pada bilik bernaung derita. Samar-samar terdengar seru Sadajiwa memanggil namanya. Samar-samar terdengar pula teriak Sakalara mengumpati orang-orang yang membawanya. Noktah merah kering berjejak sepanjang jalan, seketika lorong dipenuhi aroma duka. 

Raganya kini nyaris sampai di ambang pintu ruang interogasi, sayup-sayup terdengar gita Nugraha luncurkan advokasi. Sedikit terkejut Mei Lien begitu tahu interogasi pula menggerogoti sang mantan kroni. Pertanyaan itu tak lain meliputi kebaikan hati Nugraha yang biarkan Mei Lien menghubungi keluarganya kembali. 

Begitu pintu dibuka, dipaksa ia dudukan diri. Tampak jelas Nugraha tundukan kepala begitu atasannya layangkan caci. Mei Lien perhatikan seisi ruang, tubuhnya kian melemas begitu lihat alat setrum masih tersaji rapi. Bulu kuduknya kian merinding begitu dengar jerit seseorang di ruang lain bak tengah menaiki komedi berbelati. 

"Kau seorang perwira, Nugraha!" 

Intonasi meninggi pusatkan seluruh atensi. Mei Lien bergidik ngeri, berpasang-pasang mata bak belati. Menolehkan kepala, ia terkejut setengah mati sebab Nugraha yang berdiri tepat disisi kiri tengah diam tanpa ekspresi, lantaran memar terpatri pada kedua pipi. 

"Vokal sumbang Jodi yang mengudara nyaris gagalkan aksi kita." Suguhkan arogansi, lelaki yang berpangkat lebih tinggi meluapkan emosi. Mengusap wajah frustasi, ia dekatkan diri pada Nugraha yang tampak siap menerima konsekuensi. "Nug, di mana akal sehatmu ketika kau memberi peluang pada si China itu untuk menghubungi keluarganya?" 

Hening melingkupi. Sekali lagi, Mei Lien menjadi saksi atas keji nan merendahkan harga diri. Meremat kesepuluh jemari, kelopak mata terkatup kala rintihan ngeri mengisi. Rangkai ingatan traumatis terekam sempurna hingga akhir hayat nanti. 

"Nug, berkawan dengan orang sipit jadikan nalarmu menyempit dan kewarasanmu ikut terhimpit?" 

Salah seorang ikut buka suara, ditanggapi oleh sahutan gelak tawa. Sang penyair sontak membuka mata guna mengedarkan pandangan pada mereka yang kini beralih menatapnya. Mei Lien tersekat dengan nanar yang membara. Menekan angkara ketika murka yang ditujukan pada Nugraha turut menyangkut-pautkan dirinya. 

"Gunakan otakmu, Nugraha. Kau diberi titah oleh negara untuk menyingkirkan hama yang memelihara sindrom kepahlawanan seperti mereka." Seiring sindiran kian mengusik tanpa jeda, telunjuk ikut mendakwa Mei Lien yang berkilat murka. Tidak berhenti sampai di sana, sosok tersebut semakin gencar mencela. "Kau, aku, kita semua adalah abdi negara. Perintah adalah kehormatan dan nyawa, Nug. Kau jual kehormatanmu untuk seorang China?" Sebuah sorot meloya dihunuskan pada sang juru sastra. 

Nugraha menurunkan jari telunjuk milik sang atasan yang senantiasa mencema Mei Lien disebelahnya. Ia lepaskan lencana beserta baret yang semula tersemat pada raga seraya berkata, "Saya tidak akan mengabdi pada negara yang menulikan telinga atas jeritan rakyatnya." Meletakkan atribut pada genggam tangan lelaki yang lebih tinggi jabatannya, Nugraha sampaikan kemelut pikiran yang selama ini terpenjara. "Memang benar saya seorang perwira yang setiap saat harus tunduk pada mandat yang diterima." 

"Tetapi, komandan, saya manusia." 

Larik kata Nugraha begitu tegas kendati bergetar resonansi wicara. Sebagaimana beban yang terpikul pada kedua bahunya, darma pada bentala tidak lagi selaras dengan rasionalitasnya. 

"Akal sehat saya sebagai manusia menentang segala gaung memilukan yang disebabkan oleh siksa. Pun anyir bersimbah di mana-mana bercampur sungkawa," tutur Nugraha menekankan dengan jelas. Alur naas jadikan lengkung piasnya terpulas. "Saya tidak sanggup lagi menjadi saksi atas betapa bengisnya diktator yang menamakan diri sebagai kepala negara. Tanpa saya, silakan lanjutkan misi mengeksekusi puluhan aspirasi." 

"Nug.." lirih Mei Lien, memegang ujung seragam Nugraha. Turut sesak usai menyadari bahwa kawan lama juga terbungkam oleh tanggung jawab yang diembannya. 

"Aku minta maaf, Lien," pungkas Nugraha, sejenak samakan tinggi dan memantik senyum dirupa. Menerima fakta bahwa keputusannya akan dibenci sepanjang sisa usia. Ia rengkuh hawa berdarah Tionghoa sebagai salam dari pamitnya. "Maaf, karena aku gerilyamu harus berhenti dibulan Mei." 

Sudahi melankoli, Nugraha undur diri. Melenggang pergi tanpa membiarkan isaknya tak menimbulkan bunyi. Tersisa Mei Lien seorang diri, hadapi tirani nir nurani. Menggertakan gigi, Mei Lien menajamkan lisan dengan berani. "Interogasi lagi? Untuk apa interogasi bila tak pernah terima akan jawab yang kuucap?" 

"Tidak perlu ajukan afirmasi," tandas seorang pemuda memenggal dialog Mei Lien tanpa aba. Satu demi satu portrait pembesar diletakkan di atas meja beriring kalimat tanya. "Kau pernah berafiliasi dengan tokoh-tokoh ini?" 

Raut kecemasan yang menyelubungi segerombolan kroni menyulut Mei Lien untuk tertawa geli. Hiburan tersendiri mendapati kegelisahan menyelimuti para abdi, barangkali mereka takut jika operasi tersembunyi untuk menghilangkan aktivis tercium oleh polri dan nyaris gagal kembali. 

"Kalian mengira pergerakanku ditunggangi?" ayat sengau milik Mei Lien luruhkan kepercayaan diri mereka hingga risau. Tatapan terkunci pada nama yang melekat diseragam berwarna hijau. Ia berujar parau, "Ilmu saja tinggi, Anda mudah dikibuli." 

"Delegasi berkedok diskusi itu tidak pernah terjadi," aku Mei Lien lantunkan intonasi nan berdesau. Kendati sorotnya bak harimau, diksi yang tereka setenang danau. "Benteng perlawananku ini seorang diri."

Gelak tawa pria itu menyeruak pada rungu, menganggap apa yang gadis itu ucap seakan bualan lalu. Di tengah keheningan yang tiba-tiba mencumbu, pria lainnya mendekat dengan nyalangnya tatap yang terpaku. Sedang Mei Lien menatap nanar, mengelih langkah yang terus melaju tanpa ragu.

Pukulan begitu saja melayang pada rupanya sisakan ranum merah muda pada pipi. Netranya memanas, menahan perih yang menjadi. Kali ini tiada ampun orang-orang itu menindas tubuh ringkihnya bertubi-tubi. Luka lama yang belum sepenuhnya mengering dijadikan basah kembali. Kental merah berkucuran, rasanya detik itu raga Mei Lien sudah diambang mati.

Kencang teriakan begitu alat setrum menyentuh kulitnya lagi. Mei Lien meraung keras akan rasa sakit yang tak tertandingi. Bulir air mata tak lagi mampu ia tagak, mengalir deras kini pada kedua pipi. Tubuhnya bergetar hebat, menahan sakit yang kian mendominasi.

Sepersekian detik kemudian segala siksa kembali berhenti. Dengan napas yang menderu, Mei Lien berusaha sadarkan diri. Ia mendongak, mata sipitnya mulai menatap beberapa orang yang berdiri tepat di depan mata sendiri. Bibirnya bergetar, air matanya yang terus keluar kian membanjiri. Sekilas, tampak orang-orang itu menyunggingkan senyum sarkas melihat Mei Lien yang tak berdaya lagi. 

"Budak setan," ucap Mei Lien lirih dengan amarah yang membuncah, "sudah kubilang, untuk apa interogasi bila afirmasi yang kuberi tak pernah diterima dengan lapang hati? Kalau terus seperti ini, ada baiknya Anda semua berfantasi untuk cari jawabnya sendiri."

Tubuhnya nyaris terhuyung begitu ia bangkit berdiri. Berpasang-pasang mata di ruang sepi itu tampak mengawasi, perhatikan gerik gadis yang bersimbah darah itu dari segala sisi. Netranya yang lembab kini tertuju pada pistol—yang tergeletak di atas meja—milik salah satu abdi. 

Raba-rubu, dengan tangan yang bergetar ia raih pistol itu. Beberapa mata menatapnya tak percaya, bertanya-tanya dalam kalbu. Sedang beberapa begitu saja acungkan pistol, seakan tengah bersiap untuk pertarungan antar peluru. "Kalau memang interogasi ini hanya kedok supaya aku mati, maka lebih baik aku akan mati oleh tanganku sendiri."

Dor!

Gema tembakan yang ia arahkan asal menggaung di seluruh penjuru ruangan. Tubuhnya kian bergetar, segala rasa tiba-tiba membeludak ke permukaan. Mei Lien memang takut mati, tapi ia lebih takut bila harus terus-menerus diberi makan penyiksaan.

Mei Lien arahkan moncong pistol pada dada. Rengsa dan senak kian membelit kuat tanpa ia pinta. Kilas reminisensi berkelebat dalam kepala, kata-kata dan gerilya seakan mengucap salam perpisahan tanpa suara. Pair jantungnya berpacu menggebu-gebu, sedang kalbu tiada henti merapal doa pada sang pencipta. Setidaknya bila memang harus ia mati oleh tangannya sendiri malam ini, segala kiprah tak pula ikut binasa. 

"Dengan ini, aku berdeklarasi– harus terjadi reformasi. Pun bila malam ini aku mati, napas perjuangan kelak menderu abadi." Lalu kemudian suara tembakan dan raungan kembali terdengar. Raksi anyir pula cairan merah pekat yang terciprat lasat menjalar. Tubuh ringkihnya sudah terkapar di dalam sangkar. Namun ini bukan akhir dari segalanya, sebab kapitulasi tak akan pernah berkibar. Perlawanan akan tetap mengudara tanpa gentar. Dan suara keadilan, kelak akan terdengar.

kaserat dening, 
—  Arete & Werkudara.

Comments

Popular posts from this blog

𝐄𝐏𝐈𝐋𝐎𝐆: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀

𝐗𝐗𝐈𝐕. 𝑫𝒆𝒅𝒊𝒌𝒂𝒔𝒊 𝑹𝒆𝒇𝒐𝒓𝒎𝒂𝒔𝒊