๐๐๐๐. ๐ซ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐น๐๐๐๐๐๐๐๐
───────── ✾ ─────────
───────── ✾ ─────────
ใพ20 Mei 1998
Detak detik tak terhitung, corak langit tak tampak oleh tatap. Entah sudah berapa lama atau apakah langit telah berganti warna, ayat tanya yang berkutat tanpa kunjung dapat jawab itu senantiasa hinggap. Sekelebat asumsi kepulangan yang sempat Jodi lontarkan kembali datang mengendap. Namun segala kesangsian kian melekat seakan tak kenal hirap.
Netra tiada lagi dapat membaca warna selain dari hitam. Rungu tiada pula lagi dapat mengindra selain dari debur ombak yang menghantam. Di entah berantah ia kini, tak ada yang bisa dilakukan selain dari bermuram dalam dekapan suram. Tubuh dengan peluh ranyah yang bersimbah ruah itu masih setia diketam dua bidak agam. Tanpa perlu melihatnya, sang pemuda revolusioner tahu jelas bahwa mereka tak lain dari kroni yang berwenang untuk membungkam.
Piranti marga dengan plat berwarna berma bertandang pada sebuah dermaga. Rinai meloka pada muka bantala. Dirgantara luruhkan tangis yang tak kunjung mereda. Deru bena melanda akibat isak semesta memelawa buruknya cuaca turut haturkan sungkawa.
Tanpa catra yang menaungi raga, Sadajiwa diringkus paksa. Seorang teruna mendesak sang induk bala untuk berlutut pada mandala. Kain yang melintang pun dibuka, obyek pertama yang terperangkap lensa adalah pergelangan asta terpasung oleh jara.
Seutas garis mengembara pada rupa Sadajiwa deklarasikan duka cita tak terkira. Hingga tak berselang lama, sebuah kendaraan roda empat lainnya turut tiba. Decih bergaung pada jumantara kala jajaran perwira memasang posisi siaga seraya hormat kepada sang panglima yang sudi beranjangsana.
Respirasi Sadajiwa menghidu aroma tanah nan menenangkan. Pun dengan bau garam ikut merasuk dalam penciuman. Namun, atensi terdistraksi oleh ketukan langkah ringan, diikuti seorang ajudan yang memegang payung agar awak komandan tidak bersenggama dengan deras hujan. Sadajiwa menggulir pandangan, sepasang sepatu kulit berpijak tepat dihadapan. Menandu sang tuan yang berjejak keangkuhan.
Sadajiwa mendongak perlahan. Iris dipertemukan di antara sesak nan memilukan. Ia menjala sebuah sambutan melalui senyuman, kendati tubuh menggigil kedinginan.
"Soekarno diganti Soeharto dengan dalih keamanan negara." Lantunan Sadajiwa mengenyahkan keheningan. Pualam seteduh hutan memenjarakan kemurkaan. Ia ajukan pertanyaan yang robohkan pertahanan obyek sasaran.
"Pak, keamanan itu, mana?"
Bapak mengepalkan tangan, enggan melontarkan jawaban. Bulir bergumul lantaran perasaan lebur tak karuan. Sesaat, kelopaknya terpejamkan, tak sanggup menilik putra semata wayang yang digerayahi oleh bekas siksaan.
Sejenak, Sadajiwa mencemooh melalui gelak. Genyi bertakat menyangkak. Ia lantas menyalak, "Aku mempertanyakan keamanan. Alih-alih mendapat jawaban, aku justru diamankan."
"Lihat lebam disekujur tubuhmu. Jika saja hari itu kamu turuti perkataan Bapak untuk diam di dalam kamarmu, kamu tidak akan diperlakukan bagai jaharu," tutur Bapak dengan parau. Mengubur pikirannya yang kacau, desau mencabik secarik risau.
"Apabila aku turuti titah Bapak tuk mendekam dibalik sangkar, maka menuntut kebebasan akan selalu dianggap tabu," sanggah Sadajiwa menggebu. Sorot sayu berpacu ketika gelengan semu membelu kalbu Bapak hingga ngilu. "Suaraku yang merdeka, dianggap berdosa oleh para serdadu yang takluk pada mandat Bapak itu."
Mega berwarna abu berkelambu, rintik beranjak tersedu. Membelenggu guntur nan bercumbu. Sendu berjibaku, Sadajiwa berseru dengan bibirnya yang membiru, "Aku yang mempertanyakan keadilan pada bangsa, ditodong oleh jajaran senjata." Deriji mencema prajurit yang membisu. Iras kuyu menyatu dengan angkara yang bertalu. "Kritik dan aspirasiku seakan mengganggu stabilitas negara, sehingga aku dikejar bagai buronan massa."
"Pak, aku disekap pada jeruji tua layaknya seorang narapidana. Para tentara menghujaniku dengan siksa," raung Sadajiwa menggelegar bersama petir yang menyambar. Genyi telah mengakar mengoyak kelaliman munkar. Garda tirani yang mendengar, dia cecar dengan lisan menampar, "Menyampingkan moralitas, mereka bersembunyi dibalik mandat yang diterima guna mempertahankan lencana."
Duka bergelinyar. Bapak mengubur rintih yang menguar. Ia berjongkok, merengkuh rangka badan Sadajiwa yang berlabuh memar. "Le, ayo pulang," ajak Bapak menahan atma yang tercelar bilar sebab sesak bertakat menjalar.
"Aku dikecam agar bungkam oleh penguasa yang punya tahta," ujar Sadajiwa dengan vokal bergetar. Membenamkan diri pada dada sang ayah yang bergemuruh debar. Ia remat seragam yang tersemat bermacam lencana tatkala linang tercuar. "Pak, negara yang kau layani, menulikan telinga atas jeritan rakyatnya."
"Negara bukan hal yang bisa dilawan dengan idealisme belaka," cetus Bapak dengan ruam muka tak terbaca. Beradu pandang dengan Sadajiwa, ia berkata, "Pun keamanan yang dijanjikan oleh negara, bertujuan untuk meredam pemberontakan di luar sana."
"Kenapa harus diredam, Pak? Kenapa usul tidak ditimbang dan ditanggapi?" tandas Sadajiwa, alis terangkat seirama, ia nyalang mencela. Menikai nabastala yang menawan dipandang mata kendati berwarna kelabu karena lara bergulana. "Apakah petinggi ketakutan karena pemberontakan rakyat mengancam posisi? Bahkan kebijakan berkedok keamanan diluncurkan untuk mengebiri asasi."
"Keamanan yang dijanjikan hanya bualan semata, sebab negara dikudeta oleh Keluarga Cendana." Sadajiwa mengeraskan resonansi suara lantaran banyu makin gencar mendera. Mendorong Bapak sampai tersungkur pada butala. "Dan Bapak tunduk pada mereka!"
Tergambar riak pada sepasang jelaga sang manggala. Tercenung ia pada posisinya hingga si tangan kanan bergegas menopang agar kembali pada posisi semula.
"Bapak hanya—"
Syahadat Bapak bersua pada jeda. Pembenaran yang telah tiba pada pangkal tenggorokan kembali dikulum paksa. Terpenggal oleh bantahan Sadajiwa.
"Menjalankan perintah?" Sang orator menyela dengan gelagat cura. Hambar tawa menggema bak mencerap lelucon jenaka. Lesap seketika bermetamorfosa runcingnya frasa. "Aku muak mendengar alibi perintah adalah kehormatan dan nyawa bagi seorang tentara."
Balur terlukis secara simetris. Kaum anarkis bertajuk bengis. Sang aktivis reformis pun mendesis dengan miris, "Apakah kehormatan dan nyawa hanya milik kalian saja hingga kami diperlakukan secara semena-mena?"
"Sadajiwa, Bapak kemari untuk menjemput anak, bukan pemberontak," cakap Bapak mengikis senyap. Amarah yang tak pernah terucap telah mengendap. "Turuti perintah Bapak untuk pulang jika tidak ingin keberadaanmu dinyatakan hilang."
"Bukankah Bapak diminta agar orang-orang sepertiku segera dibasmi?" hardik Sadajiwa, mengolok-olok Bapak dari sudut bibir yang terangkat sejala. Gumaman kecil mengusik eksistensi abdi negara. "Sehingga catatan sejarah bisa dimanipulasi."
Sang orator menatap gegana yang menggelap. Arnawa senantiasa bercuap melalui hantaman gelombang meruap. Tatkala seruan camar meratap, pilu menyelinap bersama geriap bedil siap menyantap.
"Pak, aku adalah saksi dari gema aspirasi yang dibantai keji," ucap Sadajiwa teralun tenang meresap. Kertak gigi merahap sunyi nan tersingkap. "Bila aku jua dieksekusi, maka negeri ini selamanya didominasi oleh pejabat birokrasi."
Menghalau banyu, kelopak mengerjap. Lutut sedianya tertancap pada butala sigap menyingkap. Dwicagak menopang tegap. Derap bersihadap dengan Bapak yang terkesikap. Tajam lisan pun menyergap.
"Aku tidak boleh mati sebelum ekspedisi memerdekakan pertiwi dari monopoli oligarki meraih validasi. Bawa aku pergi dari sini."
kaserat dening,
— Werkudara.
Comments
Post a Comment