π—π•πˆπˆ. π–π€π‘π€πŒπ„π‘π“π€


─────────  ✾  ─────────

Mahawira Wisaka Kawidagda  



• Adiratna Pratibha  

─────────  ✾  ─────────

γƒΎKejaksaan TinggiYogyakarta  —  03.02 WIB

Dentang sangkala bergema pada sangkar yang dihuni oleh dua purusa. Redup pelita memupus gelita, nayanika masih mencumbu mesra serambi aksara. Senantiasa terjaga, sepasang wirya menamatkan ratri sembari ditemani pendar elok sang purnama. Senyap mengembara lantaran mereka khusyuk memirsa selaksa delancang tanpa menoreh gistha. Hanya sesekali menanya perihal berkas yang dicawiskan agar tidak dilupa.

Daluang terserak di atas meja berbahan akasia, sungguh tak sedap dipandang mata. Jarum merangkak pada angka tiga, memberi pertanda bahwa fajar hampir tiba. Diwangkara senantiasa terbenam oleh gulita mayapada, membawa para jelma tuk melabuh pada alam mimpi sana. Namun, sapta cawan yang tergeletak tak berdaya sebab telah tandas tak bersisa, setia mengawani tuannya.

“Aku butuh kopi lagi,” cetus Nawasena menepis lengking hening nan berkelana. Menyandarkan punggung pada sebuah asana, jemarinya menari tuk memijat pangkal leher yang terasa pegal luar biasa. Tak ayal, atensinya terusik begitu saja. Pupil terbelalak seketika tatkala notifikasi pada ponsel yang dia bawa menyala. Berapi-api dengan senyum merekah, Nawsena beranjak dari bangkunya. “Mahawira, temani aku turun ke lobi. Pesananmu sebentar lagi sampai di lokasi.” 

“Pergi saja sendiri,” sahut sang empu nama tanpa memalingkan muka. Khidmat mengindra deposisi yang hendak dibawa pada persidangan selanjutnya, Mahawira mengajukan penampikan atas pinta dari sang teruna yang berjarak gangsal jengkal darinya. Menggulir pandang pada sang atasan yang termangu dengan gurat cemas teramat kentara, derai tawanya mengangkasa. “Mas, kau pucat pasi karena harus bertolak seorang diri?”

Decakan Nawasena yang mengudara disambut oleh gelak Mahawira. Berkacak pinggang seraya membenahi letak kacamata, ia menyangkal agar tidak dijadikan bahan bulan-bulanan oleh yang lebih muda. Ia mencela, “Wir, kau yang memesan kudapan dan kopi pukul dini hari. Sekarang menyuruhku sesuka hati. Empatimu kau kebiri?”

“Jika membiarkanmu membawa siuh menuju lobi seorang diri dikatai tidak punya empati, maka kau yang memaksaku ‘tuk menangani perkara ini hingga tidak tidur berhari-hari bisa dilabeli keji tanpa nurani,” balas Mahawira melantunkan travesti selepas dicerca. Sambil memamerkan barisan giginya, bahu terangkat dengan jumawa usai memeka praupan masam Nawasena. Membongkar nakas guna mengambil pena, acuh ia meminta pria yang dasawarsa lebih tua darinya agar segera angkat kaki dari ruang kerja. “Lekaslah pergi atau esok pagi berita perihal pengecutmu akan tersiar menjadi lelucon yang dibumbui cibiran geli.”

Menggaruk tengkuk dengan kikuk, dengus geram lolos dari mulut Nawasena. Bertumpu pada pintu, lelaki yang mengenakan setelan bercorak indranila bergidik ngeri saat menilik silamnya koridor tanpa lentera. Mencuri pandang pada seorang pemuda yang berada pada satu bilik dengannya, ia lantas memajang mimik nelangsa.

Memergoki teror yang menyelinap pada benak sang kamituwa, Mahawira mengorak bahak jenaka. Dengan sengaja melontarkan banyolan nan mengancah kepercayaan diri laki-laki yang nyaris kaku dalam pijakannya. “Mas, apa yang kau takuti? Memedi pun tidak sudi menghadangmu di lorong nanti.”

“APBD tahun depan harus dibelanjakan lampu penerangansialan, kenapa semua pencahayaan dimatikan,” gerundel Nawasena, sebelum meraih ancang-ancang ‘tuk melenggang dengan derap sekuat tenaga. 

Slintru menyapa, gelegar setapak dwicagak Nawasena telah ditelan oleh tamisra. Tersisa si jejaka yang mempertuan selarap sarang pipit pada gandra tengah bersenggama dengan sunya. Meredam kelakar nan membahana, Mahawira sejenak mengatupkan kelopak aksa. Raga remuk redam lantaran sekawan dina tak bersua dengan mandragupit yang didamba. Sayu melintang sempurna, respirasi mengalun seirama. Dengkur nyaris melanglang buana, hingga sang adhyaksa terlonjak oleh desau sehalus sutra yang mengusik telinga.

“Mahawira, sudah lama ya?”




Dengung jarum jam terlantun bak melodi yang temani runcingnya kesunyian tajam. Rampai gemintang terambang di kelam lautan malam. Semilir angin yang berdatang tak ayal membikin daun pokok tampak berdekam. Lamun, tak ada yang terekam selain dari rupi lama yang sempat padam melebihi dasawarsa silam. Segala rasa menjadi satu teranyam. Gemuruh pada dada kian kencang menghantam. Sedang kepala tiada henti bergulat dengan realita tanpa duga yang baru saja menyapa si pemilik awak agam.

Rasanya terlalu dini untuk mengira bahwa persona yang terindra bukanlah mimpi. Namun sadar prakawis netra yang masih jua terjaga sedari tadi. Rasanya terlalu sunyi untuk mengira bahwa ketukan langkah kaki yang terlenting bukanlah delusi. Tetapi, sadar perihal rungu yang mustahil tanpa sebab menjadi tuli. Pratyangga yang terpampang nyata itu bukan imaji dini hari. Sang dara yang rupanya lama tak tersua berdiri tepat di hadapannya kini.

“Berulang kali Biyung melihatmu di televisi, tapi masih tidak mengira ragilku sudah sebesar ini,” tutur Ratna membuka ruang bicara dengan bait narasi. Ascarya terpantik pada canik nan jelita, terkesima kala memindai perangai sang putra yang sudah lama tak ditemui. “Romo pasti membesarkanmu dengan sepenuh hati. Perawakan hingga perwatakannya pun kau warisi.”

“Aku tumbuh seorang diri.”

Setelah melisankan klausa cendala, Mahawira menarik sudut bibir hingga terangkat setara. Iris meneroka sang dayita yang lama tak dijumpa. Salang gumun tereka mengabutkan seisi kepala, si induk yang tak diduga kedatangannya tiba tanpa aba. Mencerna realita, gulana serta euforia mengoyak rasionalitasnya. Lamun, memeka muram terbias pada roman milik lawan wicara, Mahawira segera mengulas seutas enigma guna meminda obrolan mereka. “Tadi diantar siapa?”

Sedu pun sirna. Ratna yang sedianya kusut muka lantas mengagihkan harsa. Ia mendaratkan jawaban atas ayat tanya. “Setra. Biyung memintanya untuk mengantar kemari karena mbakmu kata sudah hampir sepekan kamu tidak pulang gara-gara ihwal yang harus dileraikan teramat menguras pikiran dan tenaga.” Suka cita beranjangsana, hawa yang bersurai coklat tua lalu membongkar uncang berisi kudapan yang dibawa. Uris manis tersulam pada durja, dengan luwes Ratna menata hidangan untuk ragilnya sekali lalu berceloteh ria. “Mbak Andin bilang akhir-akhir ini kamu minta dimasakkan bakwan jagung sama nila asam manis ya? Biyung buatkan, tapi pakai bumbu rahasia. Mantep pol daripada yang Mbak Andin punya.” 

Le, ayo sarapan bersama.” Ratna haturkan ajakan sederhana sembari menyelipkan sendok di antara deriji Mahawira. Karsa bergelora tatkala gagasannya dibalas oleh anggukan kepala. “Ini kali pertama kita duduk semeja. Kalau kamu mau, besok kita makan sama-sama lagi, ya?”

“Besok ada acara,” sela Mahawira sambil menggulung lengan kemeja. Sepenggal kalimat menyirat penolakan ditujukan pada sang rena. Sekilas melirik Ratna yang bersiap menyampaikan opsi kedua, sang adhyaksa lebih dulu buka suara. “Demikian pula lusa, ada agenda rekonstruksi terdakwa di tempat kejadian perkara, aku harus terjun langsung di sana.”

Ratna terkekeh tanpa menanggalkan srawa. Sumringah tak goyah, sundari yang paras juwitanya tidak tergerus usia, melampirkan preferensi lainnya. “Kalau begitu, ada makanan yang ingin kamu coba? Perihal masak-memasak, Biyung ahlinya. Nanti, Biyung titipkan ke Mbak Andin atau Mas Setra, ya?”

“Aku makan dengan kawan sekantor saja. Toh sudah ada janji pergi ke Pocinangun sama Mas Setra.” Resonansi sedalam samudera tegas bergaung pada jumantara. Mahawira tidak menerima resistensi atas diksi yang secara gamblang terkemuka. “Jangan repot-repot, buang waktu saja.” 

Tanpa penjabaran selanjutnya, telah Ratna mafhumi penafian Mahawria. Persetujuan berwujud lenggat-lenggut dipersaksikan tanpa mengikis secarik garis pada bibir seranum bunga. “Syukurlah kalau kamu dekat dengan Mas Setra. Kelak, dia jadi kangmasmu juga.” Cekatan memisahkan duri dari daging tuk diletakkan pada piring buah hatinya, antusiasme Ratna jelas tertera. Ia menanya, “Le, sama seperti Mbak Andin yang menjalin romansa dengan Mas Setra. Apa ada gadis yang kamu suka? Boleh Biyung tahu siapa?”

Biyung tahu untuk apa?” 

Insinuasi menghujam sanubari Mahawira agihkan melalui lathi nan cempala. Akyan lekat menyelami subyek yang diajak bersalin wiwaksa, menyarangkan lesung seraya menyingkirkan irisan lauk yang dibubukan oleh ibunya. Larik seruncing bedhama dilesatkan guna mencabik sukma. “Kita tidak sedekat itu untuk bertukar cerita.”

“Kita keluarga.” Sangkalan Ratna terdengar lirih menyeruak membawa desir lara. Mengeliminasi sorot keruh pada obsidian sekelam belantara, ia memanipulasi tawa. “Lagi pula, sudah lama tidak berjumpa, apa yang salah dari saling bertanya?”

Mewalakkan garpu yang tergenggam oleh asta, dekik membingkai gatra milik Mahawira. Bahu berguncang sejala karena terkikik bak menghidu guyonan belaka. “Kita pernah menjadi keluarga,” sergahnya, memparafrase penuturan sang ibunda. Ia lecutkan verba berbalut sungkawa sebelum menjangkau lumur berisi tirta. “Dulu. Sebelum Biyung memilih meninggalkanku begitu sajaah atau menanam genyi padaku juga tanpa alasan yang bisa dipercaya?”

“Setidaknya, izinkan wanita ini menebus dosanya, Mahawira,” lirih Ratna, meremat jari-jari ringkih serta menggigit ujung bibir tuk membungkam isak nan mendera.

“Jika kunjungan Biyung hanya untuk mengajakku kembali seperti sedia kala, maaf, aku tidak bisa,” sambodana Mahawira tanpa menyurutkan lengkung yang terpatri pada rupa. Menumpukkan kangga pada kursi yang terbuat dari jati belanda, sang antiwirawan memasung surih berbancuh luka. Nanar tergambar tanpa cela ketika caksuh bersibobok dengan Ratna, ia lantas berkata, “sebelum Biyung mengenangku sebagai anak durhaka, mohon catat dalam kepala bahwa aku dan Romo berbeda.”

Ratna tercenung tanpa prakatha. Bak belati menikam dalam dada, sesak terasa bergumul luar biasa. Melarikan pandang menuju jendela, ia menghindari kontak mata yang menguncinya dengan tatapan sarat akan kecewa. 

“Aku bukan seorang gila negara seperti apa yang Biyung sangka,” ujar Mahawira mempertegas gaya berbahasa. Mengendikkan dagu pada sebuah pigura yang memahat sosok Wendra yang bersanding dengannya sembari kenakan simare berbeda warna, locana sejernih puaka kehilangan binarnya. “Aku hanya seorang jaksa yang bergulat dengan trauma sebab nyawa seorang yang satu-satunya dipunya, telah direnggut paksa oleh para petinggi bangsa. Tanpa sepengetahuan siapa-siapa, aku pun berusaha melindungi Biyung dan Mbak Andin sekeras upaya yang aku bisa.”

Biyung, kita sama-sama terluka oleh memori lama.” Mahawira menarik sebuah interpretasi dari pandika keduanya. Mengusap punggung tangan sang puan yang membiarkan bilur membasahi wajah letihnya, dekik terlukis pada wicitra sang pendakwa. “Putramu ini juga manusia. Karang di antara samudera dapat lebur bila dihantam oleh deru bena. Pun sama dengan duka yang tak kunjung mereda ditoreh oleh mereka yang mengatasnamakan diri sebagai keluarga.”

Biru terpulas pada jelaga sekelam jenggala sang lokawigna. Pias yang merangkak pada iras dibenam oleh kurva seteduh rimba. Melawat arloji yang tersemat pada hasta, Mahawira memastikan arunika sebentar lagi menyembul dari ufuk timur sana guna mengambil alih pesona sang arutala. Bangkit dari posisi serta menggapai jas yang terkulai di atas kedera, dicelampakkan lah ucapan mengusung berlilit duhita.

“Apabila nanti kita dipertemukan pada detak dan detik yang sama, tidak perlu bertukar sapa. Kita menjadi sepasang asing seperti biasanya saja.”

kaserat dening,
— Werkudara

Comments

Popular posts from this blog

𝐗𝐗. π‘·π’–π’Šπ’”π’Šπ’Œπ’– π‘΄π’‚π’•π’Š, π‘΄π’†π’Š

π„ππˆπ‹πŽπ†: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀

π—π—πˆπ•. π‘«π’†π’…π’Šπ’Œπ’‚π’”π’Š π‘Ήπ’†π’‡π’π’“π’Žπ’‚π’”π’Š