๐—๐•. ๐๐€๐“๐ˆ๐‡ ๐๐„๐‘๐ˆ๐‡


 ─────────  ✾  ─────────

• Adiratna Pratibha  



• Airlangga Estu Dierja  

─────────  ✾  ─────────

ใƒพSinduadi, SlemanYogyakarta  —  21.39 WIB

Buai gaganantara malam terasa senyap menikam. Merebak sunyi yang teranyam menandu muram. Pun desing hening bertakat menghujam, melanting ceranggah pikiran nan beragam. Gandra menoreh suram bersemayam, selarap iris merekam elok pelita yang menyuratkan temaram. Hembus niswasa tersiar dalam sebab selaksa runyam terbenam. 

Biru memelawa rinai yang bertilam. Sendu kian mencekam lantaran selarung reminisensi lawas perihal romansa yang pernah digurat, telah usai menanggalkan lebam. Kendati bahtera rumah tangga yang digadang sebagai pelipur lara sudah lama karam, senantiasa memahat duka mendalam. Jua, harsa dari para jelma di dalamnya turut padam. 

Tanpa aba nyeri berdentam. Udrasa yang semula didekam, lantas luruh menghantam. Membekam isak nan merajam, desir pilu syahdu berderam. Jemari mencengkeram renda pada gaun bercorak hitam, bilurnya bermuaram. 

“Ratna?”

Jenama sang dara digumam. Sorot sayu tertanam, memupus rancari yang menerkam. Lirih merintih itu redam oleh desau anak Adam.




“Andin di mana?” Enigma sederhana meluncur tuk menaja ruang bicara. Langga lebih dahulu membuka suara, menggulir pandang pada setiap sudut kedai yang bersenggama dengan sunya. Tanpa waham yang tertera, pria pemilik pratapa menyilangkan kaki di bawah meja. “Kau menutup kedai untuk menghindari sorotan awak media?”

Memaksa seulas garis pada rupa, Ratna memainkan ujung telunjuk pada gelas berbahan kaca. Memindai priangga yang tak banyak berubah meski yuswa tergerus dinamika dunia, dayita itu berkata, “Kedua darah dagingku diincar oleh para juru warta. Tak ayal dijadikan mangsa oleh pembesar di luar sana. Memang apa yang bisa aku lakukan selain memencilkan diri dari hingar bingar dunia?”

“Kedua darah dagingku,” celetuk Langga menilas frasa yang baru saja diagihkan oleh Ratna. Sepasang sudut mulut terangkat setara, ia menaikturunkan alis guna menggoda sang ikhwan yang sudah bertolan sejak remaja. “Terima kasih, sudah mengakui kedua buah hati temanku Wendra.”

Merotasikan netra, decakan lolos dari bibir Ratna. Menyibak surai seraya menggantungkan dalih guna menyenta rona yang bersarang pada muka, ia lalu berdeham ‘tuk menginterupsi derai tawa Langga. “Kenapa? Akulah yang mengandung juga melahirkan Anandini dan Mahawira.” Melipat tangan di depan dada, senyum masam tersemuka, memerah daun telinga. “Melihatmu terbahak, tampaknya kau tidak suka dengan pemilihan kataku tadi ya?”

Lekas meredam gelak jenaka, Langga memarginalkan posisinya yang duduk pada kursi berukiran khas Jepara.  “Alih-alih tidak suka, aku justru lega.” Sayup mendengar runtukan lawan wicara, gatra yang sedianya berhambur dagelan semata tandas tak bersisa. Sembari menyesap secawan kopi yang diracik oleh asta luwes si kawan lama, ia melabuhkan pertanyaan ketiga. “Apa yang kau risaukan, Na? Perkara yang dikuak kepada penjuru negara, tidak akan membuatmu celaka.”

“Kau kira, aku bisa menampilkan diri di hadapan khalayak masa?” hardik Ratna sambil menundukkan kepala kala sungkawa berkelana. Menepis linang yang mengguyur durja, sarkas kalimat tanya ditodongkan pada lelaki yang khusyuk memaut kurva. “Traumaku perihal sepak terjang Wendra yang mengancam jajaran penguasa dan memilih untuk menyelamatkan karir daripada keluarga kecilnya, akan membekas hingga aku tutup usia.” 

“Situasi kini berbeda,” tandas Langga, membungkam telak gemuruh asumsi si hawa. Melonggarkan dasi yang mencekik respirasi udara, ia menyanggah dengan segala idealisme yang dipunya. “Putri dan putramu sudah dewasa, mereka tahu bagaimana cara melindungi biyungnya.”

“Apa yang berbeda?” sanggah Ratna, meninggikan intonasi gema. Mendengus tidak terima dengan asumsi sang kedhana. Getar srawa berdengung ketika mencerca. “Kepalang susah aku besarkan Andin seorang diri agar tidak mewarisi watak romonya. Namun sekarang apa? Sama seperti adiknya, mereka berdua menuruni tabiat Wendra.”

“Ini alasanmu memisahkan Andin dan Mahawira?” sahut Langga, memusakakan senyuman pada praupan setenang hutan raya. Menggulungkan sapu tangan dari balik kocek celana, manik mata tertancap pada sang puan yang menyeka rintik nan mendera. “Aku haturkan pangapura bila lisanku membawa kecewa. Lamun, sebagai seorang kanca, aku peringatkan untuk tidak bercokol genyi terlalu lama.”

Bibir ranumnya terkatup rapat, tenggorokannya tercekat, ia merasa begitu berat saat ingin menyanggah pernyataan yang dituturkan oleh Langga. Pada akhirnya, yang Ratna lakukan hanya diam seribu bahasa. Tak menanggapi apa-apa.

“Sila benci kesalahan Wendra sebanyak yang kau bisa. Hanya, jangan kaitkan kedua anakmu atas kelalaian yang dilakukan ayahnya,” tutur Langga, menopang dagu di atas kenap yang menjadi sekat obrolan mereka. Lengkung terbias kentara, dalam benak merapal do'a agar Ratna yang memalingkan wajah sudi memeka penuturannya. “Na, anakmu juga manusia. Kelak mereka muak dengan kedengkian yang dituai oleh ibunya, siapa yang akan menemanimu tatkala uban menumbuhi rikma?”

Jeda beranjangsana. Derik jangkrik yang melanglang buana mengisi sepi yang singgah di antara keduanya. Meremat dasa deriji guna meleburkan angkara, Ratna termangu oleh ucapan Langga yang menampar rasionalitasnya. Sementara jelaga Langga menyelami gelagat rikuh Ratna, laki-laki yang rambutnya rapi tertata melesatkan ayat berikutnya. 

“Seorang anak dilabeli durhaka jika membantah atau berteriak murka pada orangtuanya. Tetapi, acapkali mereka lupa, bahwa orangtua kerap bertindak semena-mena. Melukai dengan lisan yang jemawa, menyalahkan atas keterbatasan yang dipunya, serta menyudutkan untuk tidak melawan pada yang lebih dewasa. Ironisnya, mereka yang mengatasnamakan diri sebagai keluarga, andil besar dalam menggores luka.”


kaserat dening,

— Werkudara

Comments

Popular posts from this blog

๐—๐—. ๐‘ท๐’–๐’Š๐’”๐’Š๐’Œ๐’– ๐‘ด๐’‚๐’•๐’Š, ๐‘ด๐’†๐’Š

๐„๐๐ˆ๐‹๐Ž๐†: ๐–๐€๐’๐€๐๐€

๐—๐—๐ˆ๐•. ๐‘ซ๐’†๐’…๐’Š๐’Œ๐’‚๐’”๐’Š ๐‘น๐’†๐’‡๐’๐’“๐’Ž๐’‚๐’”๐’Š